Tunggu Mandat PBB,TNI Telah Siapkan Pasukan Perdamaian Gaza

Foto: Kompas TV

Jakarta (PBBNews) — TNI secara intensif telah mempersiapkan diri untuk mengirim kontingen ke Gaza sebagai bagian dari misi pemeliharaan perdamaian. Hal itu merupakan bagian penting dari gagasan Prabowo Subianto selaku Presiden Republik Indonesia saat berbicara di forum Dewan Keamanan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Namun, pengiriman tersebut masih menunggu mandat resmi dari Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) dan keputusan politik dari pemerintah.

Sebagai bentuk persiapannya, TNI telah menyiapkan sekitar 20.000 personel untuk misi ke Gaza.

Pasukan akan dibentuk dalam tiga brigade komposit, yang terdiri dari personel dari matra TNI Angkatan Darat (TNI-AD), TNI Angkatan Laut (TNI-AL), dan TNI Angkatan Udara (TNI-AU).

TNI AL sendiri menyiapkan ± 5.000 personel, atau sekitar 25% dari total yang direncanakan, dengan fokus khusus pada kapabilitas medis dan konstruksi untuk mendukung operasi kemanusiaan di Gaza.

Setiap brigade komposit akan mencakup batalyon-batalyon utama seperti: batalyon kesehatan, batalyon zeni konstruksi, batalyon bantuan mekanis.

TNI menetapkan bahwa komandan misi akan berpangkat Jenderal bintang tiga, mengingat skala, kompleksitas dan koordinasi internasional yang diperlukan.

Kapuspen TNI Mayjen Freddy Ardianzah menyebutkan empat kriteria khusus bagi calon komandan: pengalaman operasi gabungan, kemampuan diplomasi militer & komunikasi strategis, pengalaman penugasan luar negeri, termasuk misi perdamaian internasional.

TNI memastikan bahwa personel yang akan dikirim telah melewati skrining kesehatan fisik dan psikologis, serta pengalaman dalam operasi militer selain perang (OMS/P) – baik di dalam maupun luar negeri.

Proses seleksi masih berjalan di setiap matra, dan belum ada daftar final yang diserahkan ke markas besar TNI.

Walaupun kesiapan teknis telah berjalan, pengiriman pasukan masih sangat tergantung pada mandat PBB dan keputusan politik pemerintah. Tanpa persetujuan tersebut, TNI tidak akan melakukan pengiriman.

Misi ini bukan operasi tempur semata, melainkan misi kemanusiaan dan pemeliharaan perdamaian — fokusnya pada proteksi warga sipil, rekonstruksi, kesehatan dan infrastruktur.

Pengiriman pasukan TNI ke Gaza menunjukkan pergeseran strategi Indonesia dalam diplomasi militer dan keterlibatan internasional — dari peran pasif ke peran aktif sebagai kontributor perdamaian global. Hal ini juga memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang siap mengambil peran konstruktif dalam krisis internasional, terutama terkait isu Palestina.

Bagi publik, hal ini berarti peningkatan perhatian terhadap kesiapan logistik, personel, dan juga tanggung jawab moral terhadap misi yang sangat kompleks.(S/berbagai sumber)