Drs. H. Salim Karel – Redpel PBBNews
Kemenangan Zohran Kwame Mamdani sebagai Walikota New York Amerika Serikat mengguncang dunia. Pria bersahaja yang lahir di Kampala, Uganda, pada 18 Oktober 1991 menjadi walikota termuda di kota pusat keuangan dunia itu.
Zohran yang baru menginjak usia 34 tahun merupakan anak dari pasangan intelektual Mahmood Mamdani (akademisi asal Uganda/India) dan sutradara Mira Nair (India-Amerika).
Setelah tinggal di Afrika dan bermigrasi ke AS ketika berusia sekitar 7 tahun, ia menempuh pendidikan di Bronx High School of Science dan kemudian lulus dari Bowdoin College dengan spesialisasi Studi Afrika.
Masuk ke politik, ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Negara Bagian New York (New York State Assembly) sejak 2021 mewakili distrik Queens (Distrik 36).
Pada tahun 2025, Mamdani muncul sebagai kandidat utama Partai Demokrat untuk pemilihan wali kota New York, dan menandakan gelombang baru dalam politik lokal Amerika.
Simbol Perlawanan
Kemenangan Mamdani dalam pemilihan utama Demokrat di New York dianggap sebagai sinyal bahwa basis pemilih progresif—termasuk generasi muda, imigran, dan minoritas—mulai memilih figur yang berbeda dari politik tradisional. Artikel dari Kompas menyebut kemenangan Mamdani sebagai “simbol preferensi pendukung Demokrat di peta politik AS” selama era Donald Trump.
Dengan latar belakang imigran, minoritas, serta pengusung ide-sosial-demokrat, ia mewakili arah yang bisa dimaknai sebagai “perlawanan” terhadap politik populis kanan, termasuk yang diwakili oleh Trump.
Kritisi Kebijakan Trump dan Israel
Mamdani telah secara terbuka mengkritik kebijakan luar negeri AS yang dipimpin Trump—termasuk intervensi militer dan dukungan tanpa syarat kepada Israel. Sebagai contoh, ia menyebut serangan AS ke situs nuklir Iran sebagai “bab gelap baru” yang menyeret AS lebih dalam ke dalam perang.
Sementara itu, ketika Trump mengecamnya sebagai “komunis nutjob” karena menolak secara eksplisit mengecam slogan “globalize the intifada”, Mamdani mengatakan bahwa perannya bukan untuk “mengatur ujaran” (speech-policing).
Posisi kurang kompromisnya terhadap dukungan tradisional AS kepada Israel membuatnya dilihat sebagai suara baru dalam politik AS yang berbeda dari arus mainstream.
Usung Sosial Ekonomi & Identitas
Mamdani mengusung agenda seperti: musnahkan beban sewa (rent freeze), transportasi umum gratis, upah minimum yang jauh lebih tinggi, kepemilikan fasilitas publik oleh kota — yang secara langsung menantang tatanan ekonomi yang selama ini dipertahankan oleh kekuatan konservatif.
Dengan demikian, penampilannya telah tumbuh menjadi simbol bagi kelompok yang merasa tertinggal atau termarjinalkan oleh sistem politik–ekonomi yang ada: imigran, minoritas, pekerja berupah rendah.
Simbol Perlawanan terhadap Trump dan Israel”
Memang perlu digarisbawahi bahwa Mamdani tidak secara eksplisit menyatakan bahwa dirinya “perlawanan terhadap Trump dan Israel” sebagai slogan utama—namun banyak aspek dalam kampanyenya dan respons terhadap kritik Trump membuat label tersebut muncul dalam narasi publik.
Melalui kritik keras terhadap Trump dan kebijakannya, Mamdani menjadi lambang bagi mereka yang menolak politik MAGA (Make America Great Again) dan “restorasi konservatif”.
Posisi terkait Israel (lebih mengkritik intervensi militer, menolak pendekatan tradisional pro-Israel tanpa pertanyaan) membuatnya dianggap sebagai figur yang berani berbeda dari dukungan bipartisan AS terhadap Israel.
Dengan latar belakang sebagai imigran, Muslim, sosialis demokrat—ia memiliki identitas yang kontras dengan elite politik AS tradisional, dan oleh karena itu menjadi figur simbolik perubahan.
Tantangan Zohran
Tidak sedikit pihak yang mengkritik Mamdani karena:
Sikapnya terhadap Israel dinilai menimbulkan kekhawatiran di kalangan komunitas Yahudi New York, yang memiliki pengaruh politik besar.
Agenda sosial-ekonominya yang ambisius dipertanyakan kepraktisannya dalam kota besar seperti New York yang memiliki tantangan keuangan sendiri.
Serangan verbal dari Trump dan pendukungnya menunjukkan bahwa ia sudah menjadi target politik sebagai “tokoh oposisi”.
Implikasi Politik
Untuk Partai Demokrat: Kemenangan atau kemajuan Mamdani menunjukkan bahwa basis progresif menginginkan figur yang lebih radikal dalam perubahan sosial dan ekonomi.
Untuk Politik AS-Israel: Jika figur-figur seperti Mamdani semakin menguat, maka posisi pro-Israel tradisional dalam politik Demokrat bisa diuji ulang secara signifikan.
Untuk Gerakan Global: Figur seperti Mamdani bisa menginspirasi politik lokal di negara lain—bagaimana imigran/minoritas dapat naik ke posisi kekuasaan dan menggunakan platform untuk menantang status quo.
Zohran Mamdani bukan sekadar politisi baru—dia menjadi ikon dari persimpangan antara identitas imigran/minoritas, ideologi progresif-sosialis, dan perlawanan terhadap arus politik tradisional yang diwakili oleh Trump dan dukungan tak terbatas AS kepada Israel.
Meski belum menempati kekuasaan tertinggi (pemilihan wali kota New York masih berlangsung), simbolisme yang dia bawa sudah terasa kuat: perubahan, kebangkitan suara tersisih, penolakan terhadap politik “business as usual”.




