Oleh Dr. Drs. Ali Amran Tanjung SH., M.Hum, Ketua Umum PARMUSI (Persaudaraan Muslimin Indonesia)
Hari ini, sejarah mencatat sebuah tonggak emas dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia. Satu abad yang lalu, tepatnya pada 16 Rajab 1344 H, para ulama besar di bawah pimpinan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari menyemai benih yang kemudian tumbuh menjadi raksasa penjaga moralitas bangsa: Nahdlatul Ulama. Kami, di keluarga besar Parmusi, menyambut momentum 100 tahun ini bukan sekadar seremoni, tapi sebagai rasa syukur kolektif bahwa kehadiran Nahdhatul Ulama telah menjaga stabilitas dan kedaulatan NKRI.
Menatap ke belakang, kita memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Hadratus Syekh KH Hasyim dan para Pendiri lainnya, yang bukan hanya arsitek sebuah jam’iyah, melainkan peradaban. Beliau-beliau adalah tokoh yang menjahit keislaman dan keindonesiaan tanpa menyisakan celah keraguan. Melalui prinsip Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman), NU telah memberikan fondasi teologis yang sangat kokoh bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Parmusi menyadari sepenuhnya bahwa perjalanan NU selama seratus tahun adalah perjalanan mendayung di antara karang-karang sejarah yang tajam. NU tidak pernah absen saat bangsa ini memanggil. Dari Resolusi Jihad yang mengobarkan semangat 10 November, hingga peran strategisnya sebagai penyeimbang dalam dialektika politik nasional, NU selalu hadir sebagai peredam konflik dan pemersatu keberagaman. Karakter Wasathiyah (moderat) yang dibawa NU adalah harta karun intelektual yang membuat Indonesia tetap utuh di tengah badai polarisasi global yang menghancurkan banyak negara.
Kini, di gerbang abad kedua, tantangan yang dihadapi tidak lagi sama. NU berada di era disrupsi, di mana kedaulatan bukan hanya soal wilayah, tetapi juga kedaulatan digital, ekonomi, dan pemikiran. Masa depan bangsa Indonesia yang cerah hanya bisa dicapai jika ormas-ormas Islam, khususnya NU dan Parmusi, mampu bersinergi dalam “orkestrasi keadaban”.
Dalam pandangan Parmusi, 100 tahun NU adalah momentum untuk melakukan lompatan kuantum. Kita tidak lagi hanya bicara tentang ketahanan budaya, tetapi juga tentang kepemimpinan peradaban. Indonesia yang cerah membutuhkan sumber daya manusia yang berintegritas, yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus penguasaan teknologi. NU, dengan jaringan pesantren yang masif di seluruh pelosok negeri, memiliki infrastruktur kemanusiaan yang paling siap untuk mencetak generasi “Santri Global” yang mampu bersaing di kancah internasional tanpa kehilangan jati diri sebagai hamba Allah.
Sesuai dengan semangat kedaulatan yang kita cita-citakan bersama, Parmusi berharap di abad keduanya, Nahdlatul Ulama terus menjadi garda terdepan dalam mengawal implementasi nilai-nilai luhur Pancasila dan Pasal 33 UUD 1945. Kemandirian ekonomi umat harus menjadi agenda utama agar kekayaan alam Indonesia benar-benar kembali ke tangan rakyat dan tidak lagi dikuasai oleh segelintir. oligarki. Keadilan sosial adalah ruh dari ajaran Islam, dan NU adalah “otot” yang paling kuat untuk menarik gerbong keadilan tersebut bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sejarah mencatat bahwa Parmusi dan NU adalah saudara seperjuangan dalam bentang sejarah dakwah di tanah air. Keduanya mungkin berbeda dalam pendekatan taktis, namun satu dalam orientasi strategis: kejayaan Islam (Izzul Islam) dan keutuhan Indonesia. Sinergi antara kaum intelektual muslim dan para ulama pesantren adalah kunci untuk menghadapi ancaman transnasional yang ingin mengikis nilai-nilai ketimuran kita.
Akhir kata, Keluarga Besar Parmusi mengucapkan Selamat Satu Abad Nahdlatul Ulama (1344 H – 1446 H). Semoga di abad kedua ini, Nahdlatul Ulama semakin kuat sebagai pilar Peradaban Indonesia. (*)




