Israel Lakukan 497 Pelanggaran Gencatan Senjata di Gaza

Jakarta (PBBNews)— Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku sejak 10 Oktober 2025, kondisi di Gaza terus memburuk akibat sejumlah dugaan pelanggaran oleh Israel.

Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara di Gaza. Di antaranya, setidaknya 25 warga Palestina tewas dalam empat serangan pada 19 November, termasuk sejumlah rumah dan pemukiman sipil.Satu serangan di wilayah selatan Gaza, dekat kota Khan Younis, menewaskan seorang bayi dan beberapa anggota keluarga, sementara puluhan lainnya luka-luka.Serangan ini makin memperuncing keraguan terhadap komitmen terhadap gencatan senjata: warga Gaza menyebut situasi “tidak aman” dan “seolah gencatan hanya di atas kertas.Banyak rumah dan infrastruktur—termasuk kawasan pemukiman, rumah sakit, dan fasilitas publik—hancur atau rusak berat akibat perang sebelumnya dan serangan ulang.Ribuan pengungsi masih tinggal di tenda-tenda darurat; makin diperparah ketika hujan deras melanda dan banjir menyerang, melumpuhkan tempat tinggal sementara dan fasilitas darurat.Menjelang musim dingin, kebutuhan akan bantuan — tenda, selimut, makanan, obat — sangat mendesak. Namun akses bantuan terus dibatasi, sehingga banyak warga terancam kelaparan dan penyakit.

Menurut data resmi Pemerintah Gaza: Israel telah mencatat 497 dugaan pelanggaran gencatan senjata sejak kesepakatan mulai berlaku.Kelompok HAM internasional, termasuk Amnesty International, memperingatkan bahwa meskipun gencatan senjata diumumkan, tindakan militer dan pembatasan bantuan bisa dikategorikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan hukum perang, bahkan ada yang menyebutnya sebagai bagian dari upaya genosida.Pelapor spesial dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan penghancuran rumah-rumah dan penolakan bantuan kemanusiaan adalah bagian dari pola yang melanggar hukum internasional.

Meski ada gencatan senjata, mediator internasional — termasuk negara mediator dan organisasi internasional — terus mendesak agar pelanggaran segera dihentikan dan akses bantuan dibuka seluas-luasnya.Namun hingga kini — lebih dari satu bulan setelah kesepakatan — banyak warga Gaza tetap hidup dalam kondisi mendesak: mengungsi, kekurangan perlindungan, serta menghadapi ancaman kesehatan dan musim dingin.

Hamas dan pejabat Gaza mengecam tindakan Israel dan menyebut gencatan senjata “kosong” jika serangan terus berlanjut. Mereka mendesak komunitas internasional lebih tegas menekan Israel agar patuh.Amnesty International menyerukan agar dunia jangan terbuai klaim damai — menurut mereka, fakta di lapangan menunjukkan “genosida tidak berhenti.”PBB dan organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa situasi di Gaza bisa berubah menjadi krisis kemanusiaan besar karena kombinasi kekerasan, kekurangan bantuan.

Meskipun ada deklarasi gencatan senjata sejak 10 Oktober 2025, realitas di Gaza menunjukkan pelanggaran serius dari pihak Israel: serangan udara, korban sipil, krisis pengungsi, akses bantuan yang dibatasi, dan kerusakan infrastruktur masif. Warga Gaza — banyak dari mereka lansia, anak-anak, dan perempuan — tetap hidup dalam kondisi sangat rentan.

Dunia internasional serta mediator perlu segera bertindak: menegakkan kesepakatan, menjamin akses kemanusiaan, serta menghentikan kekerasan agar harapan perdamaian dan pemulihan Gaza tak hanya menjadi janji kosong.(R/berbagai sumber)