Foto: Salim/PBBNews
Lumajang (PBBNews)— Letusan Gunung Semeru yang terjadi sejak Rabu (19/11/2025) telah menimbulkan dampak serius. Bahkan berdasarkan pemantauan sepanjang 2025 ini telah terjadi 55 erupsi dari gunung tertinggi di Jawa dengan puncak Mahameru itu.
Letusan gunung tertinggi keenam di Indonesia dengan ketinggian 3.726 MDPL itu telah menimbulkan dampak signifikan dan memicu status siaga maksimal.
Sebagaimana diketahui gunung Semeru melepaskan awan panas (pyroklastik) yang meluncur sejauh sekitar 7 km dari puncak.
Kolom abu teramati mencapai 2 km di atas puncak, dengan arah penyebaran ke utara dan barat laut.
Karena meningkatnya aktivitas vulkanik, status gunung dinaikkan menjadi Level Awas oleh Badan Geologi/PVMBG.
BNPB melaporkan sekitar 300 orang dievakuasi dari wilayah rawan di Kabupaten Lumajang. Pengungsian dilakukan di sejumlah pos seperti balai desa di Oro-Oro Ombo, Penanggal, dan Supit Urang.
Pemerintah kabupaten menetapkan status Tanggap Darurat untuk periode 19–26 November 2025.
Abu vulkanik pekat dapat menimbulkan risiko bagi sistem pernapasan, terutama bagi penduduk yang tinggal di radius bahaya.
Karena potensi awan panas dan lahar, masyarakat di sekitar aliran sungai (khususnya di Besuk Kobokan) diminta untuk sangat waspada.
Aktivitas gempa vulkanik tercatat meningkat: misalnya, sebelum letusan besar ini, pada 9 November 2025 tercatat 135 kali gempa letusan dalam satu hari.
Laporan internasional menyebut adanya potensi gangguan penerbangan karena kolom abu semeru.
Karena letusan dan abu, beberapa zona dilarang untuk pendakian atau aktivitas warga demi menghindari risiko bahaya.
Semeru telah menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi sepanjang 2025: misalnya 55 kali erupsi tercatat pada 12 Februari 2025.
Pada 6 Maret 2025 juga terjadi erupsi dengan kolom abu setinggi 1.100 meter di atas puncak.
Lalu, pada 26 Oktober 2025 semeru erupsi dengan kolom abu setinggi 700 meter.
Untuk keselamatan masyarakat telah dilakukan evakuasi dari respons cepat dari BNPB dan pemerintah lokal, tetapi potensi awan panas dan lahar masih menjadi ancaman serius.
Untuk mitigasi perlu penguatan sistem peringatan dini dan penanganan jangka panjang di zona rawan terutama aliran sungai yang bisa dilalui lahar.
Akibat letusan gunung Semeru ini berdampak terhadap lingkungan dan ekonomi setempat. Abu vulkanik yang ditimbulkan bisa merusak pertanian, sumber air, dan infrastruktur lokal. Jika erupsi terus berulang, dampak ekonomi di wilayah pegunungan dan lembah bisa makin berat.
Dampak lainnya adalah di sektor transportasi dan pariwisata. Ancaman debu vulkanik ke udara dapat mengganggu penerbangan lokal dan menurunkan kunjungan wisata di kawasan Semeru.(S/berbagai sumber)




