Ketum PP PARMUSI Ingatkan PW dan PD Se-Indonesia: Pemimpin Karbitan Tak Akan Menumbuhkan Pohon Keadilan

Jakarta (PBBNews)– Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Muslimin Indonesia (PP PARMUSI) Dr. Drs. Ali Amran Tanjung, SH., M. Hum menyampaikan peringatan keras kepada seluruh jajaran Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah PARMUSI se-Indonesia. Ia mengajak seluruh kader untuk menjaga marwah organisasi agar tidak jatuh ke tangan pemimpin yang hanya sah di atas kertas, tetapi gugur dalam nilai dan amanah.

“Pemimpin suatu organisasi dengan legalitas namun terpilih secara inkonstitusional dan tanpa integritas moral adalah Pemimpin Karbitan. Ia mungkin tampak matang di permukaan, namun kosong di dalam. Sejarah akan mencatatnya sebagai contoh buruk, dan ia tidak akan membawa keberkahan bagi organisasi, bagi dirinya, apalagi bagi orang-orang yang dipimpinnya atau yang mengikutinya,” tegas Ali Amran Tanjung dalam rilis resminya, Jumat  (5/6/2026).

Bagi Ali Amran, organisasi keumatan ibarat pohon besar yang tumbuh dari akar kejujuran dan air musyawarah. Jika akar itu digerogoti oleh cara-cara yang melanggar konstitusi organisasi, maka sebesar apa pun batangnya, pohon itu akan rapuh dan mudah tumbang diterpa badai.

“Legalitas tanpa integritas itu seperti pelita tanpa sumbu. Terang sesaat, lalu padam. Kepemimpinan seperti itu tidak menumbuhkan, ia hanya menghabiskan. Tidak menaungi, ia hanya memungut bayang-bayang kekuasaan,” ujarnya dengan nada reflektif.

Ia mengingatkan, PARMUSI sebagai organisasi dakwah dan perjuangan umat dibangun di atas fondasi amanah, kejujuran, dan pengabdian. Maka setiap proses pemilihan dan regenerasi kepemimpinan harus dijaga agar tetap berada di rel AD/ART dan etika keumatan.

“Jangan biarkan jabatan menjadi mahkota kosong. Pemimpin yang sejati adalah ia yang berani tunduk pada konstitusi organisasi dan tunduk pada suara hati nurani. Di sanalah letak keberkahan itu tumbuh,” katanya.

Ali Amran mengajak seluruh PW dan PD PARMUSI se-Indonesia untuk menjadi penjaga gerbang moral organisasi. Ia berharap proses demokrasi internal tidak terjebak pada transaksional dan manuver sesaat, melainkan melahirkan pemimpin yang benar-benar mengabdi.

“Kita tidak mencari pemimpin yang cepat naik, tapi cepat tumbang. Kita mencari pemimpin yang lambat dalam janji, tapi kokoh dalam bukti. Pemimpin yang namanya mungkin tidak dicatat di plakat, tapi hidup dalam doa umat,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pesan batin sekaligus arah moral bagi seluruh kader PARMUSI di seluruh pelosok negeri, agar organisasi tetap menjadi rumah perjuangan yang bersih, berwibawa, dan diridhai. (*)