Oleh: Yolis Syalala
Dari duka yang melanda Sumatera, saya tidak akan membahas perlu tidaknya penetapan bencana Sumatera sebagai bencana Nasional. Namun ada hal yang menggelitik nurani saya sebagai anak Sumatera. Ketika duka tiba, Mengapa pemangku Republik seolah bercanda?
Kementreian kehutanan mengatakan “Kayu balok yang terseret banjir dan longsor itu bukan hasil kegiatan ilegal Logging tetapi terseret sendiri oleh arus air dan longsor”. Lalu kepala BNPB mengatakan bahwa bencana Sumatera hanya menyala di sosmed saja, aslinya tak sebegitu menyalanya.
Sumpah serapah, ancaman Sumatera Merdeka di media sosial sontak menyambut pernyataan pemangku Republik yang asal “mangap” itu, narasi yang tak bernurani itu disikat habis dengan bukti video dan foto oleh masyarakat, yang pada intinya mengabarkan bahwa bencana Sumatera tidak seperti apa kata pemangku Republik hari itu.
Terakhir. Kemenhut, Kapolri Kompak akan menyelidiki Ilegal Logging di Sumatera Utara dan konon katanya sudah mengantongi perusahaan perusak hutan Sumatera. Jujur saja saya tidak begitu bahagia dan menyambut dengan gegap gempita dengan pernyataan tersebut, sebab di sinilah letak bercandanya Republik yang saya katakan itu, saya yakin mereka tidak buta, balok itu besar mustahil selama ini Kementrian Kehutanan dan Polri tidak melihatnya, kalau mereka mengatakan mereka tak melihatnya saya pastikan bercandanya mereka tak kira-kira. Kalau soal kepala BNPB yang kemudian minta maaf dengan mengatakan “Saya Mohon Maaf, Tak Mengira Besarnya Dampak Banjir Sumatera” tak perlulah ditanggapi sebab kami di Sumatera ini sudah bosan mendengar permintaan maaf pejabat, kalau memang laki-laki harusnya mundur bukan minta maaf.
Sebagai penutup, kita mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah menggalang dana untuk Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh, Fery Irwandi, Fraz Teguh dkk serta Kepala daerah dari pulau Jawa dalam hal ini Dedy Mulyadi yang sudah terlihat turun langsung ke tengah bencana.
Oh ya, hampir lupa Wapres yang kata Roy Suryo berijazah Palsu itu juga sudah turun, terima kasih juga kepada pak Wapres, kalau menteri yang mikul beras, bingung saya mau ucapkan terima kasih atau tidak.
Terlepas dari itu semua, mari kita doakan Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh untuk dikuatkan hatinya di tengah badai yang belum berlalu, dan terakhir kepada pemangku Republik berhentilah bercanda dalam mengurus negara, negara ini tak butuh barisan pengobral rindu. Semoga bencana ini akan tetap menguatkan kita sebagai bangsa yang berbhineka dan selamanya kita tetap Indonesia
Wasalam




