- Foto: Tribunnews
Sumatera (PBBNews )– Bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menimbulkan duka mendalam. Hingga Senin (1/12), jumlah korban jiwa tercatat mencapai 442 orang, sementara 402 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Angka tersebut diperkirakan masih bisa bertambah mengingat proses evakuasi di beberapa wilayah terdampak masih terkendala cuaca ekstrem dan akses jalan yang terputus.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut banjir dipicu oleh hujan lebat berkepanjangan selama sepekan terakhir yang menyebabkan luapan sungai serta jebolnya sejumlah tanggul. Wilayah terdampak terparah meliputi Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara, dengan ratusan permukiman, sekolah, rumah ibadah, hingga fasilitas kesehatan terendam lumpur dan material banjir.
Kepala BNPB menjelaskan bahwa prioritas saat ini adalah pencarian korban hilang serta penyelamatan warga yang masih terjebak di beberapa titik terisolasi. Ribuan personel gabungan TNI-Polri, Basarnas, BPBD, hingga relawan dikerahkan ke lokasi. “Kami bekerja 24 jam, namun medan dan curah hujan tinggi membuat operasi tidak mudah,” ujarnya.
Sementara itu, pengungsian darurat mengalami kelebihan kapasitas. Sedikitnya 78 ribu warga terpaksa meninggalkan rumah dan membutuhkan bantuan logistik, air bersih, obat-obatan, serta pelayanan kesehatan. Di sejumlah lokasi, warga mulai mengeluhkan keterbatasan makanan dan sanitasi.
Pemerintah pusat telah menetapkan status tanggap darurat dan menginstruksikan percepatan distribusi bantuan serta evakuasi korban. Presiden dijadwalkan meninjau langsung daerah terdampak dalam waktu dekat.
Para pakar lingkungan menilai bencana banjir tidak hanya disebabkan anomali iklim, tetapi juga diduga diperparah oleh aktivitas pembalakan liar dan alih fungsi lahan di sejumlah daerah. Kalangan pegiat lingkungan mendesak investigasi menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Hingga kini, warga berharap bantuan dan proses pencarian dapat dipercepat. Indonesia berduka, dan perhatian penuh seluruh pihak sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan korban yang masih belum ditemukan serta memulihkan kehidupan masyarakat terdampak.(S/berbagai sumber)




