Banjir Meluas di Sumut, 24 Warga Meninggal, Jalinsum Medan-Aceh Lumpuh Total, USU Hentikan Kegiatan Akademik di Kampus

Medan (PPBNews)-Banjir bandang di Sumatera Utara yang memakan 24 korban jiwa kini meluas, banjir tidak hanya menerjang 11 kabupaten kota di wilayah Tapanuli, banjir saat ini  melanda  hampir di seluruh wilayah Kota Medan, Binjai, Kabupaten Langkat dan Aceh. Akibatnya, ruas jalan lintas Sumatera (Jalinsum) Medan-Aceh lumpuh total.

Tak hanya memutus Jalinsum Medan-Aceh, banjir juga menyebabkan jalan tol Binjai-Langsa seksi Kwala Bingai-Tanjung Pura longsor. Selain itu, akibat banjir sejumlah aktivitas warga di Kota Medan dan lainnya terganggu. Di Medan, bahkan kampus Universitas Sumatera Utara (USU) yang berada di Jln DR Mansyur Padang Bulan memilih menghentikan aktivitas dan kegiatan akademiknya di kampus.

Seperti tertuang dalam surat pengumuman yang disampaikan Rektor USU yang ditujukan kepada pimpinan satuan di lingkungan Universitas Sumatera Utara disebutkan, agar pelaksanaan kegiatan akademik dan administrasi secara Work From Home (WFH) di lingkungan Universitas Sumatera Utara. Bagi seluruh dosen dan mahasiswa agar melaksanakan kegiatan perkulihan secara daring. Kebijakan tersebut berlaku selama Kamis-Jumat, 27-28 November 2025 atau hingga pemberitahuan resmi berikutnya.

Kebijakan Rektor USU tersebut diambil demi untuk menjaga keselamatan dan kelancaran kegiatan akademik dan administrasi di lingkungan Universitas Sumatera Utara.

Intensitas curah Hujan yang mengguyur sejumlah daerah di Sumatera Utara dan Aceh hingga Kamis (28/11/2025) selain merendam sejumlah wilayah di Kota Medan, Binjai dan Langkat juga memutus Jalur Lintas Sumatera Medan-Aceh. Akibatnya, arus lalulintas dari arah Medan ke Aceh dan sebaliknya terganggu dan menimbulkan kemacetan. Ribuan warga yang rumahnya kebanjiran mulai mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Seperti Rafii, salah seorang warga Kecamatan Padang Tualang, Kab. Langkat mengaku awal mula air datang pada Rabu malam, 27 November 2025, dirinya bersama keluarga dan warga sekitar bertahan di Masjid Al-Hidayah. Namun begitu debit air makin meninggi, dirinya bersama keluarga dan warga akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke tempat yang aman dan tinggi.

“Awalnya kami pikir di Masjid ini nggak kena banjir, ternyata begitu malam air masuk ke lantai masjid. Makanya kami selamatkan anak-anak dan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi,” papar Rafii.

Sementara itu, data hingga Rabu kemarin (26/11/2025),  sebanyak 24 orang warga dilaporkan meninggal dunia akibat banjir dan longsor di wilayah Sumatera Utara (Sumut). Jumlah korban meninggal berdasarkan dari tujuh kabupaten/kota di Sumut yang dilanda bencana banjir bandang dan longsor.

“Totalnya ada 72 orang, 24 orang meninggal dunia, luka ringan 37 orang, luka berat 6 orang, dan dalam pencarian 5 Orang,” kata kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Ferry Walintuka kepada wartawan, Rabu (26/11/2025).

Ferry mengatakan ada puluhan lokasi yang terdampak bencana alam yang terdiri dari banjir, longsor, pohon tumbang, dan puting beliung.

“Jumlahnya 86 bencana alam, tanah longsor 59 titik, banjir 21 titik , pohon jatuh 4 titik, dan puting beliung 2 titik,” ungkapnya.

Korban itu dari bencana alam di 11 kabupaten dan kota yang ada di Sumatera Utara, meliputi Kabupaten Mandailing Natal, Nias, Nias Selatan, Pakpak Bharat, Sergai, Tapteng, Taput, Humbahas, Padang Sidempuan, dan Kota Sibolga. (M)