PARMUSI Sesalkan Jatuhnya Korban Jiwa Latihan Dasar Militer Calon Manajer Kopdes Merah Putih: Fokus Pelatihan Manajerial, Bukan Militer

Jakarta (PBBNews)- Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP PARMUSI) menyampaikan duka mendalam sekaligus penyesalan atas meninggalnya peserta pelatihan dasar militer calon manajer Koperasi Merah Putih.

PP PARMUSI menegaskan, sebagai mitra kritis sekaligus mitra solutif pemerintah, pihaknya berkewajiban mengingatkan agar program baik tidak ternoda karena lemahnya tata kelola, kekeliruan orientasi pelatihan dan pengabaian aspek keselamatan.

Ketua Umum PP PARMUSI Dr. Drs. Ali Amran Tanjung, S.H., M.Hum. menyatakan, PARMUSI mendukung penuh program strategis pemerintah untuk perbaikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat seperti Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis (MBG).

“PARMUSI berdiri di garda terdepan mendukung kebijakan pemerintah yang pro-rakyat. Tapi dukungan itu harus dibarengi dengan kritik konstruktif agar program benar-benar tepat sasaran dan tidak menimbulkan mudarat,” tegas Ali Amran Tanjung di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Fokus Pelatihan Manajerial, Bukan Militer 

Terkait insiden korban jiwa, Ali Amran menegaskan bahwa pelatihan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih seharusnya 100% berfokus pada kompetensi manajerial, tata kelola koperasi, akuntansi, manajemen usaha, digitalisasi, pelayanan anggota, dan kepemimpinan melayani.

“Calon manajer koperasi itu bukan calon tentara dan tidak disiapkan untuk pasukan tempur. Tugasnya mengelola bisnis rakyat, bukan operasi tempur. Disiplin bisa dibentuk lewat pelatihan manajerial, bukan militeristik yang berisiko tinggi,” ujarnya.

Ia menilai, bila diperlukan penguatan karakter, cukup dengan outbound, team building, atau pelatihan kepemimpinan berbasis nilai kebangsaan yang terukur. Namun metode militeristik yang tidak relevan dengan tugas manajerial, apalagi abai terhadap standar keselamatan, harus dihentikan total.

“Nyawa rakyat terlalu mahal untuk jadi korban. Niat baik membangun ekonomi rakyat jangan sampai tercoreng karena salah orientasi dan kelalaian prosedural. Ini musibah yang harus diusut tuntas,” tegasnya.

Empat Solusi Tata Kelola dari PARMUSI 

Sebagai mitra pemberi solusi, PP PARMUSI menawarkan empat langkah perbaikan kepada pemerintah dan penyelenggara:  Pertama, audit kurikulum pelatihan oleh tim gabungan Kementerian Koperasi Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan lembaga sertifikasi profesi, pastikan materi 100% manajerial dan relevan dengan tugas manajer koperasi.

Kedua, para peserta latihan diwajibkan medical check-up dan profiling kesehatan sebelum mengikuti pelatihan, serta pendampingan tim medis selama kegiatan, apapun bentuk pelatihannya. Ketiga, susun SOP (Standar Operasional Prosedur) pelatihan berjenjang yang manusiawi dan berbasis kompetensi. Hapus seluruh materi fisik berlebihan yang tidak berhubungan dengan fungsi manajer koperasi. Manajer koperasi tugasnya melayani anggota, mengelola usaha, dan menjaga akuntabilitas, bukan latihan tempur.  Keempat, transparansi penuh kepada publik dan santunan layak bagi keluarga korban, serta evaluasi terbuka terhadap pihak penyelenggara.

Ali Amran menegaskan, semangat bela negara dan menumbuhkan cinta tanah air boleh diadopsi dalam bentuk wawasan kebangsaan di kelas, tapi esensi koperasi adalah gotong royong dan rahmatan lil ‘alamin.

“Jangan sampai pendekatan militeristik mengalahkan nilai kemanusiaan dan esensi manajerial koperasi. Islam mengajarkan hifzhun nafs, menjaga nyawa adalah bagian dari maqashid syariah,” katanya. Karena itu, PARMUSI siap menerjunkan tim ahli untuk membantu merumuskan model pembinaan manajer koperasi yang Islami, profesional, aman, dan fokus pada kompetensi manajerial.

Dukung Penuh MBG dan Koperasi Desa Merah Putih 

PP PARMUSI mengapresiasi visi besar Koperasi Desa Merah Putih sebagai tulang punggung ekonomi desa. Begitu juga dengan program MBG yang terbukti menekan stunting dan menggerakkan ekonomi lokal.

“Dua program ini sangat mulia. PARMUSI mendukung 100%. Syaratnya satu: tata kelola harus sangat baik, akuntabel, tepat sasaran, dan pelatihannya fokus pada substansi. Jangan sampai ada kebocoran, salah orientasi, apalagi korban jiwa,” tegas Ali Amran.

Ia menambahkan, sebagai ormas dakwah dan pemberdayaan umat, PARMUSI tidak akan diam jika ada program pemerintah yang dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan niat baik Presiden atau Menteri sebagai Pembantu Presiden. Namun PARMUSI juga tidak akan hanya bisa mengkritik.

“Kami mitra kritis, sekaligus mitra solutif. Kalau ada yang kurang, kami luruskan. Kalau butuh konsep, kami sodorkan. Semua demi umat, rakyat dan bangsa,” ujarnya.

PP PARMUSI mendesak agar insiden ini jadi momentum perbaikan total, bukan alasan menghentikan program baik. Evaluasi harus cepat, sanksi bagi yang lalai harus tegas, dan jaminan bagi keluarga korban harus segera direalisasikan. Dengan mengembalikan fokus pelatihan pada manajerial, kepercayaan masyarakat terhadap Koperasi Desa Merah Putih akan tetap terjaga.

“Prinsip PARMUSI jelas: dukung penuh kebijakan yang manfaat untuk rakyat, kawal agar on the track dan fokus pada substansi, serta beri solusi kalau ada masalah. Koperasi Desa Merah Putih dan MBG harus sukses, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” pungkas Ali Amran (*).