Rusia dan Ukraina Menyambut Positif Resolusi Damai AS

 

Foto: Rosy/PBBNews

Jakarta (PBBNews) – Rencana damai yang diinisiasi oleh Amerika Serikat untuk perdamaian Rusia dan Ukraina disambut dengan antusiasme oleh beberapa pihak namun juga mendapat skeptisisme dari pihak lain.Rencana damai tersebut dilaporkan berisi 28 poin yang melibatkan sejumlah konsesi dari Ukraina, termasuk pembatasan militer dan hak tertentu, sebagai bagian dari mekanisme perdamaian dengan Rusia.

Ukraina menyatakan bahwa mereka “siap secara konstruktif bekerja” bersama dengan AS dan mitra lainnya agar hasilnya adalah perdamaian. Sementara Rusia melalui juru bicara Kremlin menyebut bahwa mereka terbuka terhadap negosiasi.

Untuk banyak pihak, munculnya rencana ini dianggap sebagai kesempatan nyata untuk mengakhiri konflik terbesar di Eropa saat ini — yang telah menyebabkan kerugian manusia dan materi yang besar.

Ukraina menekankan bahwa mereka akan “melakukan apapun agar tidak ada yang bisa mengatakan kami menghambat diplomasi.”. Adapun Rusia tampak menyambut perubahan sikap AS sebagai sinyal positif untuk membuka dialog.

Namun demikian sejumlah negara Eropa merasa tidak dilibatkan cukup dalam proses, dan mengkhawatirkan bahwa rencana ini mungkin me-legitimasi tuntutan Rusia yang sebelumnya ditolak Ukraina.

Ukraina maupun pihak internasional mengingat bahwa generasi-negosiasi sebelumnya gagal karena Rusia tidak menjalankan komitmen secara penuh — misalnya dalam perjanjian-Perjanjian Minsk.

Beberapa elemen rencana dikritik sebagai terlalu menguntungkan Rusia dan terlalu berat untuk Ukraina jika mereka harus menerima pembatasan signifikan.Jika rencana ini menuju implementasi, maka akan menjadi titik balik besar dalam konflik Ukraina-Rusia, baik dalam hal politik, keamanan, maupun tatanan regional.

Akan penting untuk memastikan bahwa prosesnya inklusif (mengikutsertakan Ukraina & sekutu Eropa) agar hasilnya adil dan lestari.Masyarakat Ukraina dan Rusia akan sangat memperhatikan bagaimana mekanisme jaminan keamanan, pembatasan militer, dan status wilayah akan diatur.Hasilnya bisa menjadi preseden bagi penyelesaian konflik lain di masa mendatang—bahwa diplomasi dan tekanan internasional bisa membawa perubahan.

Rencana perdamaian ini memang disambut baik sebagai harapan untuk mengakhiri perang, namun jalan menuju kesepakatan dan implementasi masih penuh tantangan.(R/berbagai sumber)