Jakarta (PBBNews)-Presiden Prabowo Subianto menganugrahkan gelar pahlawan nasional kepada almarhumah Marsinah. Sejumlah aktivis buruh mengapresiasi pemberian gelar pahlawan nasional terhadap aktivis buruh di Jawa Timur yang tewas mengenaskan akibat perlawanan terhadap pengusaha yang tidak menghargai buruh.
Atas anugerah sebagai pahlawan nasional oleh negara itu, Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (ASPIRASI), Mirah Sumirat menyatakan, pengakuan negara terhadap Marsinah bukan hanya bentuk penghormatan kepada almarhumah, tetapi juga merupakan kemenangan moral bagi seluruh pekerja di Indonesia yang terus memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, dan hak-hak konstitusional buruh.
Oleh karena itu, ASPIRASI menyambut dengan penuh penghormatan dan rasa haru atas keputusan Pemerintah Republik Indonesia yang menetapkan Marsinah, aktivis buruh perempuan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
“Marsinah adalah simbol keberanian, keteguhan, dan suara yang tidak pernah padam dalam memperjuangkan hak-hak pekerja. Penetapan ini mengukuhkan perjuangan buruh adalah bagian dari perjuangan bangsa,” demikian disampaikan Mirah Sumirat, dalam keterangan pers tertulisnya kepada media, Senin (10/11/2025).
Menurutnya, Marsinah adalah buruh perempuan yang pada tahun 1993 gugur setelah mengorganisir aksi protes terkait kenaikan upah minimum di Jawa Timur.
Nama Marsinah tak lekang oleh waktu. Tiga dekade setelah kematiannya yang tragis, aktivis buruh perempuan ini tetap menjadi simbol perjuangan hak- hak pekerja di Indonesia.
Marsinah bukan hanya korban pelanggaran HAM, tetapi juga ikon keberanian dalam menghadapi ketidakadilan sistemik.
Berikut adalah catatan singkat sosok Marsinah yang dirangkum dari artikel Refleksi Tiga Belas Tahun Pejuang Buruh Perempuan: Kasus Tragedi Marsinah di laman garuda.kemdikbud.go.id:
Perjuangan Hidup Marsinah
Marsinah lahir pada 10 April 1969 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, buah kasih pasangan Sumini dan Mastin.
Namun, masa kecilnya tak berjalan mulus.
Pendidikan dasar ia tempuh di SD Karangasem 189, Kecamatan Gondang, lalu melanjutkan ke SMP Negeri 5 Nganjuk.
Sejak kecil, Marsinah dikenal sebagai anak rajin dan mandiri.
Di rumah, Marsinah tak segan membantu bibinya memasak.(Tribun/Kompas)




